*flashback*
“My luckiness,” ucap Ari bangga.
“Sit down, everyone!” Mr. Ben bicara.
“Besok lanjut-_-“ ucap Justin pada semuanya, lalu berbalik ke mejanya.
Ari cengengesan. Lalu dia membuka tasnya perlahan dan mengambil buku
dari dalamnya. Bau sandwich menyeruak. Gara-gara games tadi, bahkan Ari
lupa buat makan siang. Tapi dia buru-buru menutup tas itu dan duduk
anteng, lebih tepatnya, “sok” anteng.
***
Sore itu hujan mengguyur Stratford dengan ganas. Diluar sedang badai.
Mrs. Chance—mamanya bang ecen yang lagi bertamu pun terjebak dirumah
Ari. Akhirnya dia menghabiskan waktu ngobrol sama Mama Ari.
Ari sempat menguping, kalau Mrs. Chance agak sedih sering meninggalkan
anaknya dirumah gara-gara pekerjaan. Kakaknya dua-duanya lagi kuliah,
yang cewek gak nge-kost, tapi selalu pulang malam karena dia ikut
semacam organisasi di kampusnya.
“Its okay, aku nggak keberatan kalau dia disini,” kata Mommy tersenyum.
“Serius? Dia nggak bandel, kan?” Mrs. Chance menatap Mommy Ari khawatir.
“Sama sekali nggak. Dia anak yang baik. Ari suka banget sama dia,
sampai-sampai sering dicubiti,” kata Mommy Ari lalu mereka berdua
tertawa. Ari yang sedang nguping pun ikut nyengir.
“Ahh, aku berutang banyak padamu,” kata Mrs. Chance.
“Lupakan saja. Dia sudah kuanggap anak sendiri, kok;)” kata Mommy Ari.
Blahblah. Ari gak mau nguping lagi. Dia capek harus berdiri terus,
sementara Mommy-nya bicara tentang hal yang sebenarnya gak perlu dia
tau. Akhirnya Ari naik ke atas, membuka pintu kamarnya lalu meraih
remote tv.
Tapi gak lama kemudian, Ari mendapat telfon. Dari pamannya.
“Hello, uncle James?” suara Ari terdengar sedikit parau.
“Hi, Ari! Can I talk to your mom?” ucap paman James.
“Ugh, I’m sorry. Dia lagi menemui tamu, ada apa?” tanya Ari sambil
mengecilkan volume tv.
“Grandma Sue has passed away,” ucap paman James yang langsung membuat
Ari lemas habis-habisan.
“How came?!” Ari membelalak. Dia segera membuka pintu kamar, mencari
Cody.
“Dia sakit 3 hari yang lalu. Hari ini rencananya aku mau bawa dia ke
rumah sakit, tapi terlambat,” ucap paman James. Suaranya terdengar
kacau. Hatinya pasti sangat terpukul dengan perginya Grandma Sue.
“Ok, I’ll call u later. Bye.”
Ari membuka pintu kamar Kodih dengan terisak-isak. Dengan cepat dia
menyambar tubuh kecil Kodih sambil terus menangis.
“Kenapa lo…” kodi menatap bingung.
“Jupe putus sama Gaston, Cod :’(“ salaaaaah.
“Grandma Sue meninggal, Co :’(“ ucap Ari. Suaranya sedikit tertutupi
oleh suara hujan di luar.
Kodi melepas pelukan kakaknya. “Jangan bercanda lo,” Kodi menanggapi
santai, menganggap kakaknya cuma ber-akting.
“Serius gue! Baru aja paman James telpon!” ucap Ari penuh emosi. Air
matanya belum bisa berhenti. Dia terlalu sedih mengingat Grandma Sue
adalah orang terpenting dalam hidupnya.
Tiba-tiba Mommy-nya datang. Ellen (mama Ari) menatap dua anaknya
bingung.
“Kalian akur banget,” ucapnya sambil tersenyum.
Ari menoleh. Ellen terkejut melihat anak perempuannya penuh dengan air
mata di wajahnya.
“Mom, Grandma Sue meninggal….” kata Ari lalu memeluk Mommy-nya.
“Who says that?!” Mommy berdiri kaku.
“Coba Mommy telpon paman James,” kata Ari sambil mengelap air matanya.
Mommy dengan buru-buru melepas pelukan anaknya lalu menuruni tangga
dengan cepat. Ari terduduk lemas di sofa tempat Cody sering main ps.
Jendela yang meleleh karena air hujan membuat suasana makin mencekam.
***
*Ari’s POV*
Its Friday, Friday, Friday -_- oke kenapa gue jadi nyanyi……
Ini hari jum’at. Yup, free time. Di sekolah gue, hari jum’at kita boleh
milih pelajaran apa aja. Misal, gue mau pelajaran biologi, maka gue
masuk kelas biologi. Tapi kalau gue gak ikut pelajaran sama sekali
pun—misalnya cuman main basket diluar—itu gak masalah. Asal ada
kegiatan. Sekolah macam apa coba ya…….-_-
Gue berjalan di koridor dan berhenti sebentar di mading. Shit, gue ga
ada mood sama sekali. Kemarin, 19 April, itu hari terburuk yang pernah
ada. Grandma Sue di makamkan kemarin di Florida, dan sekarang Mommy
Daddy lagi ke Florida untuk 4 hari.
Gue menatap mading dengan lemas. Terkadang mendengus melihat gossip
bertebaran di ujung sana-sini. Redaksi School Magazine itu emang suka
cari gara-gara, ada gossip sedikit langsung diumbar. Gue melemparkan
pandangan ke kertas lain. Ada artikel biodatanya Michael Jackson,
Christina Aguilera, dan ada berita Syakh Rukh Khan (yang biasa dipanggil
Syahrini) disebut sebagai Random Singer. Dunia ini………….
Gue melanjutkan perjalanan paling menyiksa—ke kelas. Kelas gue ada di
lantai 2. Oke ini gak masalah. Masalahnya, harus ngelewatin tangga yang
terjal, banyak, berliku-liku, dan berdesak-desakkan. Yang gue pikirkan,
gimana kalo nanti gue udah naik kelas 3? Kelas 3 ada di lantai 3. Pasti
lebih nyiksa.
“Rey, why are u crying?” tanya Kelsie ketika kita bertemu di depan
kelas.
“Ah? Siapa yang nangis?” kata gue sambil ngelap air mata. “Ini keringet
kok.”
“Jan ngibul deh-,- gue udah sering dikibulin sama lo-,-“ ucap Kelsie
lalu nyengir.
“Suttt, awas ah-,-“ gue menyingkirkan Kelsie dan mencoba berhenti
menangis.
“Rey…lu ngapa?” Matt yang melihat gue langsung mencegat jalan gue.
“Ga kenapa2,” jawab gue sekenanya. Matt menyingkir, dan membiarkan gue
menaruh tas di meja. Gue menatap jam, masih jam 7, kelas di mulai satu
jam lagi.
“IIIH SAKIT MATA YAAA?!!!” Justin datang merusak pemandangan-,- mampus
deh……kalo ada dia pasti heboh-,-
“IYAAA!!!” jawab gue kesal.
“Dia nangis bloon-,-“ Sabrina meninju tangan Justin.
“Yah? Nangis kenapa?:o” Justin malah bertingkah aneh yang membuat gue
tertawa.
Gue gak menjawab. Gue menutup wajah gue karena air mata gue makin deras.
Bayangan wajah Grandma Sue terngiang-ngiang. Waktu gue dan Cody
berantem, dia pernah bilang, ‘jangan pernah benci saudara sendiri. Suatu
hari kamu akan membutuhkannya.’
Shit, membutuhkan apa? Ga ada yang gue butuhkan dari Cody. Dia Cuma
perusak. Ngeselin. Selfish.
“Cup Rey jan nangis.__.” Justin memeluk gue.
Krik. Krik. Krik. Krik. Hening. Hening. Hening.
Shit lah, apa-apaan ini orang peluk-peluk gue?!
Biarin lah..kesempatan dalam kesempitan.
Wkwkwkwk-_-
Gue makin menjadi-jadi (?) gue membasahi bahu Justin dengan air mata
entah air mata bahagia atau sedih……..
“Cry on my shoulder if it make you feel better,” bisik Justin sambil
mengelus rambut gue. Gue pun cengok, antara mau mental ke Venus atau
gerogotin tembok. Dan satu hal………he smells good. Wanginya kaya wangi
surga bok-.-
“Wailaaah Bieber cari kesempatan itu=..=” gue mendengar suara Ronald
bicara begitu dari ujung kelas.
*no POV*
Justin yang mendengar Ronald bicara begitu cuman nyengir sambil
mengacungkan jempol kanannya. Lalu dia mengusap-usap rambut panjang
temannya lagi.
“Nenek lo meninggal ya, Rey?” tanya Kelsie polos.
“Heh._.” Sabrina menepuk lengannya.
“Apa? Gue cuman nanya-_-“ Kelsie mendengus.
“………..”
“………..”
Suasana hening. Ari mulai tenang, isakannya tidak terdengar lagi, tapi
wajahnya masih tenggelam di bahu Justin yang terus diledeki anak
laki-laki lainnya.
“Rey,” Justin yang mulai pegal mencoba melepas pelukan temannya. “Udah
ya._. jangan nangis._. nanti jelek._.” ucap Justin kaku.
“Siapa bilang gue cantik?” kata Ari setengah berbisik, menahan ledak
tangisnya.
“Gue,” kata Justin bermaksud ngehibur.
“Kapan lo bilang gue cantik? Setau gue lo bisanya gangguin gue doang-,-“
ucap Ari setengah terkekeh.
“Arey cantik,” kata Justin lalu tertawa. “Tuh, barusan gue bilang.”
‘shitttt im blushing!’ dengus Ari dalem hati.
“Apa? Gak denger?” canda Ari sambil melepas pelukannya. Dia mengusap
pipinya dengan telapak tangannya.
“Ga ada siaran ulang-.-“ ucap Justin yang merasa di permainkan.
Ari membenarkan posisi duduknya. Dia mengambil nafas dalam-dalam, lalu
membuangnya perlahan. Lalu dia melirik laki-laki yang duduk
disampingnya.
“Oh gosssh, sorry, I wet your shirt,” ucap Ari sambil menunjuk ke bahu
Justin.
Justin terkekeh sambil ikut melirik bahunya. “Cuciin…..” candanya.
“Iya iya ntar gue cuciin-,-“ ucap Ari manyun.
“HAHAHA canda kok._.”
“…….”
“…….”
Hening lagi. Kelsie, Sabrina, Oliver dan Matt lagi main basket di luar
sana. Kelas lengang, cuma diisi 5 orang.
“Hey, why we no play music?” ucap Justin memecah kesunyian.
“Gak bisaaa,” kata Ari malas. “Ngantuk tauuu….”
“Gue tau lo bisa nyanyi,” ucap Justin maksa. Dia menarik-narik tangan
Ari yang terlanjur tiduran di meja.
“Sotoy-..-“ Ari memutar bola mata.
Setelah dibujuk, Ari mau juga. Dengan berat hati dia melangkah ke ruang
musik. Sepi.
“Nah loh gaada gurunya. Udah balik aja-.-“ ucap Ari maksa.
“Woles ah,” Justin memasuki ruangan itu dan menyalakan lampunya. “Eh,
gue bisa main piano loh,” kata Justin sambil menduduki kursi piano.
“Who cares?” Ari memutar bola mata.
“Tebak, lagu apa?” Justin mendentingkan sebuah nada indah.
“…….” Ari menaikkan alisnya.
“Easy come, easy go,” kata Justin memberi clue sambil nyengir.
“Oh!” Ari memekik. “That’s just how you live, oh, take take take it all
but you never give,” Ari melanjutkan liriknya.
“Should’ve known you was trouble from the first kiss, had your eyes wide
open, why were they open?” lanjut Justin.
“Gave you all I had, and you tossed it in the trash, you tossed it in
the trash yes you did, to give me all your love, is all I ever asked,
cause what you don’t understand is..” Ari melanjutkan lirik itu dengan
perfect.
Lalu mereka nyanyi bersama, “I’d catch a grenade for ya, throw my hand
on a blade for ya, I’d jump in front of a train for ya, you know I’d do
anything for ya.”
Lalu musik berhenti. “Sorry, not seterusnya gue ga hafal._.v” kata
Justin sambil berdiri.
“That was perfect!!!” kata Ari membelalak, masih dengan suaranya yang
serak akibat nangis.
“Thanks,” Justin beralih ke alat musik lainnya.
“Lo mau main apa lagi? O..O” Ari mendengus.
“Hehehe._.v” Justin meraih gitar.
“Semua musik aja lo bisa-__-“ dengusnya lagi.
“Gak kok, gue Cuma bisa drum, piano, gitar, sama terompet,” kata Justin
lalu nyengir. “Tebak lagi,” kata Justin lalu memetik senar gitar yang
menimbulkan nada indah.
Ari menaikkan alis, lalu nyengir. “We were both young when I first saw
you, I close my eyes and the flashback starts Im standing here, on a
balcony in summer air.”
Justin melanjutkan, “see the lights, see the party the balls gowns, I
see you make your way trough the crowd and say hello, little did I
know.”
Ari tersenyum lalu melanjutkan liriknya. “That you were romeo, you were
throwing pebbles, and my daddy said stay away from Juliet. And I was
crying on the staircase, begging you please don’t go, and I said romeo
take me somewhere we can be alone I’ll be waiting all there’s left to do
is run. You’ll be the prince and I’ll be the princess it’s a love story
baby just say yes….”
“Perfect,” kata Justin terkekeh. Ari ikutan terkekeh juga. “See, music
has cheer you up :D” kata Justin yang melihat mata Ari sudah terlihat
segar.
“Uhm, yeah, hehe,” Ari tersipu.
“Intinya, gaada yang perlu lo sesalin kok, Rey. Nenek lo meninggal bukan
karena lo,” kata Justin melihat wajah Ari masih penuh kesedihan.
“Gue tau,” ucap Ari sambil menundukkan wajahnya.
“Mau gue traktir es krim gak? :D” tawarnya.
“Hmm… ga pengen,” ucap Ari manyun.
“Alah sok ga pengen-..-“ Justin berdiri, disusul Ari yang cengengesan.
Ketika bertemu teman-temannya di lapangan, mereka memanggil-manggil.
“Beeeb! Mau kemana beb?” tanya Matt ke Justin.
“Mau ke kantin weh, mau nraktir anak orang :D” kata Justin bercanda.
“Aku kok gapernah di traktir?:3” Kelsie memasang wajah unyu.
“Ayo lah, tapi bayar sendiri :D” ucap Justin.
Ari yang ngerasa ngga enak sama teman-temannya langsung bicara. “Ju, gue
gausah di traktir deh._. ga adil juga, masa mereka ga di traktir?....”
kata Ari pelan.
“Woles, Rey,” kata Justin sambil menepuk-nepuk pundak Ari.
“Ahh, nggak deh, ga enak gue sama mereka-.-“ kata Ari lalu beralih.
“……..mm, oke. Gue terharu sekarang-_-“ kata Justin sambil memutar bola
mata.
Akhirnya mereka gabung ke 4 temannya main basket. Lingkaran mata panda
dibawah mata cokelat Ari terlihat jelas, menunjukkan kesedihan yang
begitu melukainya. Bahkan, se-ceria apapun dia sekarang, matanya gak
bisa menyembunyikan kesedihannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar